Ya, jadinya saya malah "naik" pangkat. Dan, kehadiran Pak Martin dalam kehidupan kerja saya ini, bisa dikatakan, mengajarkan saya bahwa "life is full of surprise."
Nah, mengapa saya bilang semua yang terjadi di hidup saya full of mindblowing? Jadi, Pak Martin ini awalnya tidak sekantor dengan kami (di Kingpin). Awal-awal hanya ada Pak Tony dan Pak Ferry, beserta teman-teman kantor yang sudah ada dan yang baru masuk, seperti saya dan beberapa teman seangkatan saya, di November 2010 itu.
Tetapi, pada Desember 2010, Pak Tony menginformasikan bahwa gedung kantor kami akan pindah ke Hang Tuah dan kemudian bergabung juga dengan Pak Martin, beserta karyawan-karyawannya.
Nah, Pak Martin ini sebelumnya dikenal sebagai orang yang dingin sekali. Karyawan-karyawan yang sudah ikut beliau dahulu dari lama, sangat segan dengannya Kalau Pak Martin ini perempuan; judes, mungkin kata yang paling cocok untuk mendeskripsikan diri beliau. Tapi, baik lho ya orangnya. Makanya, karyawan-karyawan yang lama, termasuk sudah bertahun-tahun ikut beliau. Hanya saja, memang sangat dingin dan agak kaku orangnya.
Tapi, beliau lah yang BERHASIL MEMBERDAYAKAN saya! Isn't it very mindblowing?
Bayangkan ya, Pak Martin sifatnya begitu, sedangkan saya? Saat itu, saya bahkan untuk soal kerjaan pun ngga pede. Karena, saya merasa sudah bisa bekerja di tempat se-comfort zone itu pun, saya ngga lulus probation. Jadi, ketika saya diberi kesempatan untuk ganti posisi jadi Social Media Marketing, ya, saya mau, tapi saya juga sangat ngga pede, takut gagal lagi, dan merasa agak terpukul.
But, it turns out, life always has its own ways to make everything fall into places. Pak Martin kepribadiannya kan seperti itu tuh, sedangkan saya lagi down begitu. Tetapi nyatanya, beliau lah yang berhasil memberdayakan saya, si fresh graduate yang sedang takut-takutnya gagal lagi.
Awal-awal, belum apa-apa, Pak Martin mengajak saya meeting dengan pihak brand. Dan brand ini cukup besar, apalagi untuk saya, saat itu. Produk-produk dari brand ini adalah barang-barang elektronik, seperti kamera, monitor komputer, proyektor, dan lain-lain.
Kemudian, setelah meeting, belum apa-apa, saya diminta untuk langsung meng-email Ashley, Ia adalah Marketing Communications dari brand ini di Singapore. Nah, cabang yang di Singapore memang merupakan HQ dari brand ini untuk area Asia Pacific. Jadi, kami harus mengikuti Marketing Plan dari HQ, yang mana salah satu plan-nya yaitu, Social Media Activation (dan saat itu, karena masih tahun 2011, jadi hanya di Facebook saja untuk Social Media Activation-nya).
Dan saya ingat, saya takut-takut gitu pas diminta untuk meng-email Ashley, untuk pertama kalinya. Apalagi saya berpikir, belum apa-apa, komunikasinya langsung ke HQ. Aduh, tambah takut. Tapi, saat saya bertanya ke Pak Martin, harus bagaimana, beliau ambil jalan dan berlalu keluar, dengan sangat tenang hanya bilang, "jangan takut." --- Ya, beliau hanya perlu berkata itu, dan sejak saat itu, sat set sat set sat set, lancar dan naik terusss.
Dan setiap kali saya berhasil mengerjakan apa pun, bahkan untuk hal-hal sangat kecil sekali pun; biasanya lewat email atau BBM, beliau selalu mengucapkan terima kasih atau sekadar memuji, seperti misalnya "good!". Persis seorang ayah yang memuji anaknya ketika berhasil melakukan sesuatu.
Dan ingat, ini dilakukan oleh seorang Pak Martin, yang sangat dingin dan agak kaku lho 
Tetapi memang, semenjak kantor bergabung, Pak Martin berubah jadi lebih "santai". Karena, saya dan teman-teman saya, meamng tipe yang "rame" banget, jadi suasana kantor terasa lebih hangat.
Pak Martin jelas tidak tahu bagaimana masa lalu saya. Tetapi ternyata, beliau tahu bagaimana harus memberdayakan saat itu. Ya, belakangan, saya baru menyadari how he treated me, ternyata itulah yang sangat saya butuhkan, paling tidak, di saat itu. And the ways Pak Martin and even Pak Tony, treated me were something that I never got, not even from my parents.
Bersambung ke part 4...
No comments:
Post a Comment