Saya tidak mungkin menyalahkan orang-orang yang sudah memperlakukan saya sangat baik, tetapi, kondisinya saat itu adalah, saya jadi SEMAKIN NYAMAN di sana 
Oh ya, saya mau cerita ini nih. Jadi kan saya mulai jadi Social Media Marketing itu dari Mei 2011. Nah, waktu itu memang saya sangat "bawel" di Twitter. Intinya, oleh seorang teman di Twitter, saya ditawari brand untuk saya pegang secara freelance. Dan brand itu pun cukup terkenal di kalangan market dengan kelas menengah ke atas.
Saya ingat, saya mulai pegang brand itu secara freelance, pada bulan November 2011. Produk dari brand yang saya pegang itu adalah produk skincare, di mana produk unggulannya adalah, produk untuk mengatasi strecthmark pada ibu hamil. Dan mau tahu? Dari sini, akan nyambunggg lagi ke cerita-cerita berikutnya
Padahal, ini brand untuk saya sampingan freelance-an, sama juga, beyond my plan kan? Bukan saya yang sengaja mencari sampingan, tapi, seorang teman di Twitter, yang mengenalkan kepada saya. Tapi, nanti akan nyambunggg lagi ke cerita lainnya
Namun sekarang, kita masih fokus cerita saya di Kingpin ya 
So, November 2011, saya punya brand sendiri untuk freelance-an. Kemudian, pada tahun 2012, saya mengenal Ko Haryanto Kandani secara pribadi dan meng-handle akun Facebook-nya.
Ok, jadi bayangkan, sudah di kantor nyaman banget, kemudian 2 tahun berturut-turut, saya dapet objekan sampingan sendiri. Dan saya ngga sangka, ini juga jadi turning point ke-2 di hidup saya, di mana pada akhir 2013 sampai tahun 2014, saya mengalami yang namanya; Quarter Life Crisis.
Ya, Quarter Life Crisis itu nyata. Nyata banget malah
Saking nyatanya, itu bekasnya ngga akan hilang, namun jadi pelajaran yang sangat berharga buat saya.
Ya, seperti yang sudah saya tuliskan pada postingan-postingan sebelumnya, tahun 2014, saya mengalami depresi sangat berat dan juga merasakan yang namanya gejala psikosomatik.
Jadi ceritanya, pas masuk tahun ke 2013, feeling saya sudah agak absurd gitu
Karena, pertama, saya menyadari bahwa teman-teman seangkatan saya di Kingpin, sebagian besar sudah resign. Kedua, seingat saya, Ashley, sebagai Marcomm di HQ, yang selama ini tektokkan dengan saya, juga sudah resign dari brand yang kami tangani. Ketiga, akhirnya, brand yang kami tangani tersebut juga roman-romannya tuh mau berhenti, karena PIC yang di Indonesia pun sudah jarang kontak dengan saya. Dan masih ada beberapa faktor lainnya, yang membuat saya ada feeling bahwa saya harusnya sudah mencari pekerjaan yang lain. TAPI... NAH, TAPINYA INI LHO... YANG PEER BANGET 
Tapinya adalah, ya itu, saya sudah sangat terjebak di zona nyaman itu 
Mau tahu, saat itu saya sempat berpikir, kalau jalan saya masih di sana, jujur saja, saya ngga mau resign, mungkin hingga 10 tahun ke depan, baru bikin usaha sendiri. Tetapi dengan syarat, tentunya ada jenjang karier. Tapi saya ngga membayangkan jenjang karier yang "wah" seperti apa kok. Karena Kingpin bisa dibilang usaha kecil menengah gitu lho. So simply, harapan saya tadinya ya saya bisa jadi kepala divisi digital yang membawahi beberapa staff, yang mana, memang pernah dijanjikan seperti itu KALAU memang berkembang divisi digital ini.
Tapi, saya tahu, kenyataan berkata lain. Ibarat kata, rezeki saya di sana harus segera berhenti, tapi sayanya bingung mau ke mana, karena saya sudah keburu comfort zone banget di sana.
Nah, saya pernah sampaikan ini ke Pak Martin. Saya lupa kapan tepatnya. Mungkin pertengahan tahun 2013. Jadi saya bilang kepada beliau, lihat kondisi seperti ini, sepertinya, ini saya bakal lama lagi nih di Kingpin, dan mau tahu apa jawaban Pak Martin?
Saya jawab di part 5 ya... 
Bersambung ke part 5...
No comments:
Post a Comment