1/3
Dari Mataku, Seorang Lelaki Hujan
.
.
"Aku benci hujan"
Suara gadis itu terdengar lantang, nan kekanak-kanakan di telingaku.
Aku hanya diam saja, mengangkat sudut bibirku, sembari tetap menulis.
Ah, nanti juga gadis itu akan bergosip lagi dengan kawanannya.
.
.
"Semoga tidak hujan"
Setahun yang berlalu, dan gadis yang sama lagi.
Aku yang asyik merangkai kata cinta sampai sedikit berpaling.
Waktu mengambil porsi, dalam menjadikan ia dirinya.
Cantik. Tapi aku lebih suka menulis, maka kembali kulakukan yang kucintai.
Luput dari mataku, gadis itu memayungiku dari hujan yang nyatanya sudah turun.
.
.
"Yah, hujan"
Aku tak mungkin lupa suara yang sama lagi, bertahun setelahnya.
Tetapi, menangis?
Ah, sudahlah.
Tinta tulisan cinta dengan tanganku sudah mengering.
Seperti kesadaranku, bahwa hujan bagi gadis itu selalu berarti aku.
.
.
Dan inilah tulisanku,
"Gadis itu mencintai aku, tetapi aku menjadi hujan untuk musim panasnya. Maka pergilah aku, dan kubiarkan saja adanya"
.
.
.
09.21.18
Bersama Hujan dan Kerinduan yang Pupus
#VAE
#sajakberderak - 53


This free site is ad-supported. Learn more