Fenomena Pasca Lebaran, banyak ibu-ibu macam saya memasuki zona waktu harap-harap cemas. Menantikan pesan mbak ART, bakal kembali atau tidak.
Situasi itu tak saya alami (lagi). Sejak beberapa waktu lalu saya melepaskan diri dari ketergantungan pada ART. Saya mengatur sistem pekerjaan rumah tangga sepraktis mungkin. Kemudian yang sedikit challenging adalah mengajarkan anak-anak mampu adaptasi dengan situasi ini. Harus ada 'demo' dahulu. Contoh, menggunakan Vacuum Cleaner yang ringan, ramping, dan mudah digunakan. Mengepel dengan praktis, yang sesudahnya membuat suasana bersih dan harum segar.
Di akhir minggu saya memanggil jasa bersih-bersih selama 3 - 4 jam untuk membersihkan rumah lebih teliti. Sampai membersihkan kamar mandi dan mengelap kaca. Sebulan dua kali tukang taman langganan membersihkan taman. Semua beres dengan jadwal tertata.
Sehari-hari pekerjaan rumah yang butuh dibersihkan adalah bagian dapur, mulai dari mencuci piring beserta membersihkan sink. Saya mengajari anak-anak mengerjakan tuntas bagian ini. Sampai bersih tak berbau. Saya selipkan pesan juga, mengapa dapur kami tak ada kecoak. Resepnya pun saya dapat dari rekan kerja, yaitu tak boleh ada sampah tertinggal setiap malam. Soal cuci setrika baju, kirim ke laundry saja. Termasuk selimut, sprei, dan lain sebagainya. Hanya baju dalam yang saya cuci sendiri menggunakan mesin, dan sebelumnya dimasukkan ke kantong-kantong kain. Masukkan ke mesin cuci, pilih delicates, lalu sekali tekan saja beres. Hanya sedikit repot menjemurnya. Semua disertai pesan ke anak-anak, agar wilayah privacy tetap terjaga, dan baju dalam awet.
Kemudian saya demo masak, yang praktis tentunya. Potongan Steak yang sudah dipack dalam plastik siap dimasak, hanya butuh dipanggang di atas teflon, dengan 3 bumbu, garlic, pepper, salt. Saya bilang, agar rasa enak dagingnya masih 'utuh' dengan bumbu yang simple. Lalu masakan lain adalah irisan siap pakai daging (ala Yoshinoya) ditumis dengan bumbu yang sama, lalu ditambah saus Inggris, dan kecap Kikkoman. Tak lupa bubuk jamur andalan. Rice cooker mini praktis siap digunakan, mencucinya pun gampang. Masakan lain, berbagai olahan Telur, tumis sayuran, dan juga sup. Disertai pesan, di rumah kami tak akan kelaparan. Kulkas dan lemari dapur telah rapi menyimpan berbagai makanan. Jadi walau tak ada ART, kami tak selalu pesan makanan. Bahkan history pesan antar makanan kami tak lebih dari 1 juta rupiah sebulan. Dibandingkan teman-teman saya yang sekitar 5-8 juta rupiah sebulan. Sedapat mungkin saya siapkan sarapan dan makan siang sebelum ke kantor. Dengan semangat menyediakan makanan sehat.
"Jadi walau tak ada ART, kami tak selalu pesan makanan. Bahkan history pesan antar makanan kami tak lebih dari 1 juta rupiah sebulan."
Jadi kami tak lagi merasakan drama pasca Lebaran soal mbak ART. Selain juga saya mendapatkan bonus lain: memberi pelatihan pada anak-anak soal kebersihan, konsistensi, dan juga endurance.
Ada yang punya pengalaman serupa?
No comments:
Post a Comment