Kalau bicara fase kehidupan, dari usia saya 0-21, bisa dibilang hidup saya PENUH COBAAN xD Nah, dari 22-34, penuh PELAJARAN xD Dan masuk akal, cobaan dari usia 22-34 memang ngga sebanyak dan seberat sebelum usia 22, karena selepas lulus kuliah, saya sudah bisa cari uang sendiri dan menjadi tulang punggung keluarga, keputusan kan artinya setengahnya di tangan saya, setengahnya lagi di Alam Semesta xD
Sebenarnya, dari saya masuk kuliah, sudah agak mendingan sih. Tapi, bener-bener jauh mendingan adalah sejak ngantor di kantor pertama setelah lulus kuliah, karena akhirnya sudah berpenghasilan tetap. Bukan hanya untuk saya, tapi untuk seisi rumah. Walaupun ngga gede-gede amat penghasilannya sebagai fresh graduate, tapi minimal, sudah ada penghasilan tetap. Ngga bingung lah besok makan apa, ibaratnya.
Nah, tapiii, cobaan memang sudah ngga sebanyak sebelum usia 22, tapi pelajarannyaaa, eh buset... Banyak banget... xD Sebabnya, saya ngga pernah diajarin bagaimana beretika yang benar di keluarga. Saya tidak bermaksud menyalahkan kondisi atau keadaan, tetapi keluarga saya.... ya tidak terlihat seperti sebuah keluarga xD Jadi, boro-boro etika, yang ada, di rumah saya, masalah selalu diselesaikan dengan kekerasan xD Dan dari kecil, saya tahunya dituntut untuk ranking, ranking, dan ranking.
Saya sudah hatam dipukul pake sapu lidi, ini dan itu, supaya saya ranking, demi memenuhi ego ibu saya, yang ingin, minimal ada yang bisa Ia banggakan dari keluarga, yaitu prestasi sekolah saya. Saya ingat, kalau ranking saya turun, ibu saya bisa menatap saya dengan penuh kemarahan dan penuh dengan sentimen. Jangankan ranking turun, telor putih ngga saya makan saja, dulu, padahal usia saya sudah cukup dewasa, ibu saya langsung melototin saya (kebetulan saat itu ada teman datang ke rumah. Kalau ngga ada, pasti sudah kekerasan verbal itu).
Oleh karena itu, apa pun, yang terjadi di luar, misalnya dulu saya juga di-bully saat SMA, saya ngga pernah cerita apa-apa ke rumah. Wong di rumah, juga "di-bully". Pernah sekali saya cerita, kalau saya di-bully, saya sudah perkirakan apa respon orangtua saya, mereka hanya berkata; ngapain peduli teman-teman, yang PENTING, RANKING.
Masih ada lagi kejadian lain yang menimpa saya, yang jauh lebih pahit, dan respon orangtua saya, hanya mengumpat, dan sudah, begitu saja.
Ya, saya tumbuh menjadi orang yang penuh luka batin, kepahitan, trust issue, dan kebingungan. Bingung, karena saya merasa tidak memiliki role model yang benar dalam hidup saya.
Tetapi, semenjak saya kuliah, sampai masuk ke dunia kerja, mulai tuh, sepertinya doa-doa saya terjawab, di mana saya dipertemukan dengan banyak orang baik, yang can bring out the best of me. TAPI... Saking banyaknya, eh jatohnya, bingung juga, mau denger yang mana 
Bersambung ke part 2....
No comments:
Post a Comment