Kalau kamu memutuskan untuk lanjut kuliah, dan kamu punya beberapa pilihan jurusan yang ingin diambil, cara memilih yang paling tepat adalah... dengar kata hatimu 
Kalau mau pakai cara manual, bisa coba tes 8 Multiple Intelligences (8 Kecerdasan Majemuk). Ini bisa siapa sih mencoba, ngga harus yang mau lanjut kuliah doang. Dari sini, kamu makin bisa tahu, apa kecerdasan yang paling dominan di dirimu.
Kalau mau pakai cara perenungan atau analisa mendalam
, ya kamu bisa compare beberapa pilihan jurusan yang mau kamu ambil, dari berbagai sisi. Seperti contohnya saya waktu itu kan ada 3 pilihan jurusan: PR, Psikolog, dan Design, nah saya bandingkan ketiga itu dari berbagai sisi. Misalnya, ya, saya ada kecerdasan visual juga, saya bisa menggambar, dan bahkan pernah, dulu pas SMP, satu kelas, saya dan satu teman saya (yang kebetulan teman segeng sampai sekarang), kami berdua mendapatkan nilai tertinggi untuk tugas mewarnai. Tapi, saya tau, bahwa saya BISA, bukan JAGO atau betul-betul menguasai. Jadi seperti menggambar, saya bisa menggambar KALAU ngikutin contoh. Bukan yang tiba-tiba ngebayangin apa, terus langsung bisa saya gambar.
Kemudian, saya juga pertimbangkan secara biaya. Saya tahu dengan pasti, jurusan design tuh termasuk salah satu jurusan mahal, bukan hanya dari biaya semesterannya saja, tapi juga dari berbagai peralatan yang harus dibeli. Ini juga tentunya, kalau dibahas secara logika, ya emang ngga masuk deh nih jurusan design dilihat dari sisi budget 
Ok, pilihan satu lagi, Psikolog. Nah, ini beberapa orang pernah mengira saya ini kuliah psikologi, padahal mah bukan ya. Selain tentunya hati kecil berkata saya yakin di PR, secara logika, pada akhirnya saya ngga ambil Psikologi, karena... hidup saya sendiri buanyakkk beban
Otak berisik banget, jiwa penuh dengan luka batin dan kepahitan 
Satu lagi, jadi kan SMA saya ambil IPA (yaaa, walaupun IPA-IPA-an sih
), nah saya berikrar dalam hati saya; "pokoknya kalau kuliah, saya ngga mau ketemu hitung-hitungan lagi. Lelah otak ini..." (padahal IPA saya dulu, ngga ada apa-apanya dibandingkan sekolah pada umumnya
).
Kemudian, saya ambil PR di LSPR. Ya, LSPR terkenal sebagai Institusi/Sekolah Tinggi Komunikasi terbaik di Jakarta. Dan, pada tahun-tahun saya kuliah, biaya kuliahnya termasuk ringan, comparing dengan kampus lainnya. Tetapi, biar kata ngga mahal-mahal banget, biaya kuliah saya dibayar oleh tante dari pihak ayah maupun ibu, kemudian juga sempat dibantu oleh "bosnya" ayah saya Kemudian, di pertengahan, saya kerja sambil kuliah untuk memenuhi biaya opersional aka transport, makan, tugas, skripsi, dll.
Walaupun, dibayar oleh tante sendiri. Tetap saja, pakai duit orang, yang bukan keluarga inti, adalah menjadi beban tersendiri hingga saat ini. Apalagi kalau dibahas sama tante pernah dibayarin ini dan itu oleh beliau, itu beban deh, beneran.
No comments:
Post a Comment