Jadi, Pak Martin menjawab seperti ini, "iya, saya ngerti, ya sudah, berarti rezekinya sudah berhenti sampai di sini. Kita mau MINTA MAAF sama Oki, karena ngga bisa memenuhi apa yang Oki mau." --- COMFORT ZONE ngga, guys?? Even sampe mau resign pun, ibarat kata, gue yang mau pergi, tapi bos gue yang minta maaf 
Fyi, Pak Martin usianya jauh di atas saya. Kira-kira hampir 20 tahun ada deh. Dan sudah berkeluarga ya.
Sekarang saya mau tanya, mana ada kantor yang sampai begini?? Ibarat kata; "elo yang mau resign, tapi bos elo yang punya usaha, yang usianya jauh di atas elo, yang minta maaf." 
Pak Martin minta maaf, karena beliau tahu harapan yang saya tulis di postingan sebelum ini, bahwa sebenarnya saya ngga mau resign, tapi di satu sisi, karier saya juga berkembang di sini, sedangkan Pak Martin tahu bahwa goal ini tidak bisa direalisasikan, karena jalannya memang sudah sampai di situ.
Dan akhirnya, saya pun berada dalam posisi serba salah. Saya ngga mungkin bertahan di Kingpin, tetapi saya juga enggan bekerja di perusahaan besar/terkenal/tua. Karena dulu saya pernah magang di tempat yang cukup hesar, dan pengalaman saya buruk di sana. Entah mengapa, saya yakin, di perusahaan besar, saya ngga akan bisa mendapatkan vibes yang serupa seperti di Kingpin. Ya ngga usah sampai yang, atasan saya minta maaf sama saya sih. Yaaa, cukup 11-12 saja. Tapi saya tahu, kemungkinan sangat kecil, untuk bisa mendapatkan yang seperti itu lagi, apalagi kalau di perusahaan besar.
Selain pernah magang di perusahaan besar, pada tahun 2016, saya pernah "ngantor" di perusahaan yang terkenal, yang berada di bawah naungan sebuah grup yang cukup besar. Dan benar, boro-boro 11-12 seperti di Kingpin, yang ada, saya sangat ngga cocok dengan GM di sana, dan nyaris dikerjain oleh rekan kerja saya, didasari rasa iri-irian.
So, balik ke pertengahan 2013, saya pun bingung nih. Tetap di Kingpin sudah tidak mungkin, pindah ke perusahaan besar, ngga ada tuh "hati" buat ke sana. Padahal, saya ingat sekali, antara tahun 2012 sampai 2016, saya mendapatkan banyak sekali tawaran pekerjaan dari LinkedIn; entah yang datang dari perusahaan kecil atau rintisan, hingga perusahaan besar dengan brand yang sangat ternama. Ya, saya tahu, baru dipanggil untuk interview, belum berarti akan keterima. Hanya saja, profile saya di LinkedIn juga ngga keren-keren amat. Tapi, yang menawarkan, itu banyakkk sekali. Ya, secara logika, saya paham sih, kenapa bisa banyak yg menawarkan saat itu. Tapi intinya, tidak ada yang saya ambil.
Pernah sekali, saya coba interview di satu perusahaan, baru interview pertama, kemudian saya ngga lanjut lagi, saat diminta untuk datang ke interview ke-2 dengan user.
So, saya pun mengambil keputusan ingin full freelance.
Bersambung ke part 6...
No comments:
Post a Comment